Site icon Selebtoday.com

Model Lili Beberkan Pengalaman Ditawari Foto Seksi hingga Dugaan Pelecehan, Tekankan Pentingnya Batasan

Modell bernama Lili mengungkap pengalaman pribadinya selama berkarier di dunia modeling yang menurutnya tidak selalu berjalan mulus. Ia mengaku pernah menerima berbagai tawaran kerja sama dari fotografer sejak 2014, namun baru benar-benar terjun ke dunia tersebut pada 2020.
“Dari 2014 sudah sering ditawarin foto, tapi aku belum mau. Baru 2020 aku terjun, itu pun karena butuh kerjaan,” kata Lili dalam keterangannya.

Di awal kariernya, Lili mengaku sempat menerima sejumlah konsep pemotretan dengan busana terbuka. Namun seiring waktu, ia mulai lebih selektif dalam memilih pekerjaan dan memegang prinsip pribadi.
“Awal-awal sempat nurut pakai baju yang agak terbuka. Tapi semakin ke sini aku nggak mau. Aku punya prinsip,” ujarnya.

Lili juga menceritakan pengalaman yang nyaris membuatnya berada dalam situasi tidak nyaman. Ia pernah diajak melakukan pemotretan di sebuah hotel dan diminta berada berdua saja di dalam ruangan.
Merasa tidak nyaman, Lili menolak dan meminta agar ada pihak lain yang mengetahui proses pemotretan tersebut.

“Aku nggak mau kalau cuma berdua di dalam satu ruangan. Maunya rame-rame. Jadi aku ajak pihak hotel untuk tahu kalau itu hanya foto,” katanya. Selain itu, Lili juga mengungkap pernah mengalami ketidaksesuaian honor. Ia mengaku sempat dijanjikan bayaran jutaan rupiah, namun jumlah yang diterima jauh dari kesepakatan awal.
“Pernah dijanjikan sekian juta, tapi pas sampai rumah amplopnya cuma Rp350 ribu,” ujarnya.

Menanggapi kasus dugaan pelecehan yang tengah viral dan menyeret profesi model serta fotografer, Lili menilai penting bagi para model untuk menjaga sikap, disiplin, serta berani menolak jika merasa tidak nyaman.

“Tidak semua model pernah jadi korban, tapi kita harus jaga diri. Kalau ada yang nggak sesuai, ya tolak,” katanya.
Meski demikian, Lili mengakui dunia modeling juga memberinya banyak relasi dan pelajaran berharga. Ia menegaskan bahwa setiap individu memiliki batasan dan prinsip masing-masing yang harus dihormati.
“Semua kembali ke diri kita. Kita nggak bisa samaratakan semua orang,” ujarnya.

Exit mobile version