Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 yang memasuki Tahun Kuda menjadi momen tak terlupakan bagi penyanyi Mandarin Icha Yang. Di tengah padatnya jadwal manggung, sebuah pembatalan acara di Singapura justru membawanya pada pengalaman spesial: tampil outdoor di kawasan Bundaran HI, Jakarta.
Penyanyi muda berbakat asal Jember ini mengaku awalnya tak menyangka bisa merasakan euforia panggung terbuka lagi. Selama ini ia lebih sering tampil di ballroom dalam acara komunitas. Namun kali ini, suasananya benar-benar berbeda.
“Sudah lama banget nggak nyanyi outdoor. Biasanya di ballroom, ketemunya itu-itu lagi. Sekarang bisa lihat penonton dari berbagai kalangan, rasanya beda dan seru banget,” ungkapnya.
Di hadapan ribuan warga yang memadati area perayaan, Icha Yang ini membawakan tujuh lagu. Meski dikenal sebagai penyanyi Mandarin, ia tak hanya menyuguhkan lagu-lagu berbahasa Tionghoa. Salah satu momen yang paling mencuri perhatian adalah saat ia menyanyikan lagu “Indonesia”.
Menurutnya, pilihan lagu tersebut menjadi simbol bahwa perayaan Imlek bukan hanya milik satu etnis, melainkan bisa dirayakan bersama dalam semangat kebersamaan.
“Penontonnya nggak semuanya keturunan Chinese, tapi semuanya ikut happy. Makanya aku pilih lagu yang bisa dinyanyikan bareng-bareng. Biar terasa kalau kita ini berbeda tapi tetap satu,” ujarnya.
Dari sisi persiapan, Icha Yang kini tak lagi turun tangan sendiri. Dengan jadwal yang beruntun, seluruh konsep penampilan mulai dari aransemen lagu hingga kostum sudah ditangani tim profesionalnya.
“Sekarang semua sudah di-handle tim, jadi aku tinggal fokus perform saja,” katanya.
Atmosfer panggung terbuka juga memberinya energi berbeda. Jika di ballroom penonton biasanya berasal dari komunitas tertentu, di ruang publik seperti Bundaran HI semua lapisan masyarakat bisa hadir tanpa batas.
“Di outdoor itu semua kumpul, bapak-bapak, ibu-ibu, anak muda, semuanya jadi satu. Itu yang bikin suasananya hidup banget,” tambahnya.
Menariknya, meski dikenal luas sebagai penyanyi Mandarin, Icha menegaskan dirinya bukan keturunan Tionghoa dan tidak merayakan Imlek secara personal karena ia beragama Muslim. Namun, baginya, musik adalah jembatan lintas budaya.
“Aku memang nggak merayakan Imlek secara pribadi, tapi lewat musik aku ikut memeriahkan dan berbagi kebahagiaan,” tuturnya.
Di Tahun Kuda ini, gadis cantik inipun berharap energi semangat dan keberuntungan bisa dirasakan semua orang.
“Semoga kita semua sehat, panjang umur, rezekinya lancar sekencang lari kuda, dan makin sukses,” ucapnya penuh harap.
Pembatalan jadwal di luar negeri yang sempat disayangkan itu kini terasa seperti berkah tersendiri. Bagi Icha Yang, panggung di jantung ibu kota malam itu bukan sekadar pengganti jadwal, melainkan momen reuni hangat bersama publik yang sudah lama tak ia temui dalam suasana terbuka.

