Site icon Selebtoday.com

Alyne Maarif Buka Suara Demi Lindungi Anak dari Konflik Pasca Perceraian

Jakarta – Penyanyi Alyne Maarif akhirnya memilih berbicara secara terbuka mengenai perjalanan hidupnya setelah perceraian yang selama ini tidak banyak diketahui publik.

Keputusan tersebut diambil bukan untuk memperpanjang konflik, melainkan sebagai bentuk upaya melindungi anak-anaknya dari dampak dinamika keluarga yang berkepanjangan.

Alyne yang juga merupakan ibu dari artis cilik Niloufer Bahlwan, dikenal publik lewat peran Agil dalam film Keluarga Cemara 2 dan Lolly dalam sinetron Di Antara Dua Cinta, mengungkap bahwa pernikahannya di masa lalu diwarnai perjalanan panjang yang tidak mudah.

Menurut Alyne, selama bertahun-tahun ia menghadapi berbagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga, mulai dari tekanan psikologis, kekerasan finansial, hingga kekerasan fisik.
“Saya sudah dua kali mencoba mengajukan gugatan cerai, tetapi setiap prosesnya selalu kembali ke relasi yang sama karena dinamika manipulasi dalam hubungan tersebut,” ujarnya.

Perceraian akhirnya terjadi setelah gugatan diajukan oleh pihak mantan suami. Saat itu Alyne mengaku tidak memiliki kekuatan hukum yang memadai dan hanya ingin mengakhiri hubungan yang menurutnya sudah tidak lagi sehat.

Ia berharap perceraian dapat menjadi titik akhir konflik. Namun realitas yang dihadapi justru berbeda. Meski telah berpisah, Alyne menyebut dinamika konflik tetap berlanjut dalam bentuk tekanan psikologis, tuduhan, hingga gaslighting. Ia bahkan mengaku sempat membuka ruang komunikasi demi kepentingan anak-anak dan tidak pernah melarang mantan suaminya untuk bertemu mereka.

Namun situasi tersebut membuat Alyne akhirnya mengambil langkah tegas dengan memutus komunikasi demi menjaga kesehatan mentalnya.
“Batas itu saya buat agar saya bisa pulih secara emosional,” katanya.
Keputusan tersebut tidak mudah. Alyne mengaku pernah mengalami depresi dengan tingkat kecemasan tinggi hingga akhirnya mencari bantuan profesional dan menjalani pemeriksaan psikologis. Sayangnya, langkah untuk mencari bantuan tersebut justru menjadi bahan serangan personal yang ia terima.

Dalam situasi tersebut, Alyne kemudian meminta perlindungan kepada Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI). Setelah melakukan asesmen terhadap dirinya dan anak-anaknya, lembaga tersebut mengeluarkan rekomendasi agar anak-anak berada dalam pengasuhan ibu serta memberikan batasan mengenai akses kunjungan yang harus diatur secara jelas.

Namun menurut Alyne, rekomendasi tersebut hingga kini belum sepenuhnya dijalankan.
Selama ini Alyne memilih jalur yang lebih tenang dan tidak membuka konflik ke ruang publik. Sebagai seorang seniman, ia justru menyalurkan pengalaman dan emosinya melalui karya.

Perjalanan emosional tersebut ia tuangkan melalui lagu, tulisan, hingga jurnal pribadi. Salah satunya tercermin dalam album Narc, yang berisi refleksi perjalanan batin yang ia alami selama masa-masa sulit dalam hidupnya.

Namun sebagai seorang ibu, Alyne merasa ada titik di mana ia tidak bisa lagi hanya diam.
Ia mengaku mulai melihat dinamika emosional tertentu yang berkembang pada anak-anaknya, termasuk pola pendekatan yang menurutnya berpotensi menimbulkan manipulasi emosional seperti yang pernah ia alami.
“Sebagai ibu saya tidak bisa hanya berdiri diam ketika melihat anak-anak berpotensi masuk ke dalam siklus yang sama,” kata Alyne.

Selama lebih dari satu tahun terakhir, ia juga mengaku telah mengumpulkan berbagai data dan pengamatan mengenai kondisi psikologis anak-anaknya.Upaya tersebut dilakukan demi memastikan mereka tetap berada dalam lingkungan yang aman secara emosional.

Sebelum akhirnya berbicara ke publik, Alyne mengatakan telah menempuh berbagai jalur perlindungan, termasuk melalui LPAI dan unit pelayanan perlindungan perempuan dan anak.
Ia pun menegaskan siap menempuh langkah hukum lanjutan apabila situasi terus berlanjut tanpa penyelesaian yang jelas.

“Ini bukan tentang konflik pribadi, tetapi tentang memastikan anak-anak tidak menjadi korban dari dinamika yang tidak sehat,” ujar Alyne.

Ia berharap keterbukaannya ini dapat menjadi awal bagi penyelesaian yang lebih serius dengan kepentingan terbaik anak sebagai prioritas utama.(SilviAnd)

Exit mobile version