Site icon Selebtoday.com

Amara Sophie Bongkar Sisi Psikologis Tiwi dan Teror “Halus” yang Mengintai di Balik Syuting ‘Aku Harus Mati’

Jakarta – Aktris muda Amara Sophie membagikan pengalaman unik sekaligus mencekam saat memerankan karakter Tiwi dalam film horor Aku Harus Mati. Tak hanya mendalami karakter yang kompleks, Amara juga mengaku menghadapi gangguan tak kasatmata selama proses syuting.

Dalam film tersebut, Amara memerankan Tiwi, sosok perempuan yang tumbuh sebagai yatim piatu di panti asuhan dan memilih bertahan di zona nyaman hingga dewasa. Karakter ini, menurut Amara, memiliki lapisan emosi yang cukup rumit.

“Dia itu innocent, tapi di sisi lain punya rasa memiliki yang besar ketika jatuh cinta. Itu yang bikin konfliknya menarik, karena dia nggak berani melangkah jauh, tapi emosinya dalam,” ungkap Amara.

Pendalaman karakter Tiwi tak hanya menuntut sisi emosional, tetapi juga menguji ketahanan mentalnya. Amara menyebut, tantangan terbesar justru datang dari bagaimana memadukan kepolosan dengan gejolak rasa cinta yang intens.

Namun, pengalaman yang paling membekas justru terjadi di luar adegan. Selama menjalani syuting di Yogyakarta, Amara mengaku mengalami gangguan misterius yang berlangsung hampir setiap malam.

Ia menceritakan, pintu kamar tempatnya menginap kerap digedor keras di tengah malam. Meski sempat dijelaskan sebagai ulah tikus, Amara merasa ada yang janggal karena intensitasnya tidak wajar.

Tak hanya itu, ia juga mengalami mimpi aneh yang terasa seperti rekaman CCTV—melihat dirinya sendiri sedang tidur, dikelilingi sosok-sosok tak dikenal.
“Yang paling kerasa itu lebam-lebam di kaki. Tanpa sebab yang jelas, tiba-tiba ada aja,” katanya.

Meski begitu, Amara memilih untuk tidak terlalu larut dalam ketakutan. Ia mengaku lebih memilih menerima pengalaman tersebut tanpa mencari tahu lebih jauh.

Gangguan itu memang tidak sampai menghentikan proses syuting, namun cukup menguras energi. Amara bahkan mengaku sering tertidur di sela-sela pengambilan gambar karena kelelahan.

Menariknya, tim produksi ternyata sudah menyadari kondisi tersebut, namun baru mengungkapkannya menjelang akhir syuting.
“Semua orang ternyata ngeh, termasuk sutradara. Tapi baru bilang di hari terakhir,” ujarnya.

Bagi Amara, pengalaman ini menjadi salah satu momen paling “horor” dalam kariernya—bukan karena kejadian yang eksplosif, melainkan karena gangguan yang terasa halus namun berlangsung lama.
“Bukan yang langsung besar, tapi pelan-pelan dan terus ada. Itu justru yang bikin lebih terasa,” tutupnya.(Silvia Andriani)

Exit mobile version