JAKARTA – Festival Film Wartawan (FFW) 2026 tak hanya menghadirkan kompetisi film, tetapi juga memperkenalkan Piala Wina Armada Sukardi sebagai penghargaan baru bagi penulis kritik film terbaik. Penghargaan ini menjadi bentuk penghormatan terhadap almarhum Wina Armada Sukardi sekaligus penegasan bahwa kritik film memiliki peran penting dalam membangun ekosistem perfilman nasional.
Ketua Komite FFW, Beny K. Harman, menjelaskan bahwa pemilihan nama Wina Armada Sukardi bukan dilakukan tanpa alasan. Menurutnya, almarhum memiliki rekam jejak panjang sebagai jurnalis dan kritikus film yang telah memberikan kontribusi besar bagi dunia perfilman Indonesia.
“Nama itu tidak hadir dari ruang hampa. Ada historiografi yang panjang. Beliau sudah meraih penghargaan kritik film sejak era Piala Mitra yang kemudian menjadi Piala Citra. Karena itu, beliau sangat layak diabadikan melalui penghargaan ini,” ujar Beny.
Momen peluncuran penghargaan tersebut juga dihadiri istri almarhum, Amalia. Dengan suara bergetar, ia mengaku terharu karena cita-cita suaminya untuk memajukan perfilman Indonesia melalui jurnalisme kini akan terus dikenang.
“Bagi kami ini adalah kehormatan yang luar biasa. Hari ini nama Wina Armada Sukardi akan terus disebut setiap tahun bersama karya-karya kritik film terbaik. Artinya, semangat almarhum untuk menulis, mengkritik, dan mencintai film Indonesia tak akan pernah mati,” kata Amalia.
Ia juga menyampaikan pesan kepada calon penerima penghargaan agar tetap menjunjung integritas dalam berkarya.
“Tulis dengan jujur, kritik dengan cinta.”
Sementara itu, Direktur Film, Musik, dan Seni Kementerian Kebudayaan, Irini, menegaskan pemerintah akan terus memperkuat ekosistem perfilman melalui dukungan terhadap berbagai festival film, termasuk FFW. Menurutnya, dukungan tersebut tidak hanya diberikan kepada festival besar, tetapi juga komunitas-komunitas film di berbagai daerah.
Selain peluncuran penghargaan, FFW 2026 juga memperkenalkan program podcast yang akan mengulas film dari sudut pandang wartawan. Program ini diharapkan menjadi ruang diskusi yang lebih luas mengenai perfilman Indonesia, tidak hanya sebagai sarana promosi, tetapi juga media edukasi dan kritik yang konstruktif. (Silvia Andriani)
















Discussion about this post