Di tengah tantangan lapangan kerja yang semakin kompetitif, sebuah peluang tak biasa muncul dari dunia kreatif berbasis teknologi. Pembuatan Action Figure dengan teknik 3D printing kini tak hanya menjadi hobi, tetapi juga membuka ruang kerja bagi banyak orang dari berbagai latar belakang.
Namun dari hobi tersebut, muncul kepuasan tersendiri—terutama saat karya yang dibuat di apresiasi seperti Black Myth Wukong yang sempat berada di Emporium Pluit Mall pada Event Japan Heroes United 2026 yang berlangsung 1-5 April 2026 di Main Atrium
Siapa sangka seorang kreator muda, biasa disapa Alfred yang membuat Action figure mengungkapkan bahwa proses produksi karya, terutama skala besar seperti karakter RoboCop atau Iron Man, Karakter black myth wukong , Marvel dan action figure lainnya, melibatkan banyak tahapan yang tidak bisa dikerjakan sendiri.
Mulai dari desain digital, proses cetak, hingga tahap finishing seperti pengamplasan dan pengecatan, semuanya membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan yang beragam.
“Ini bukan kerja satu orang. Justru di situ peluangnya, banyak orang bisa ikut terlibat,” ujarnya.
Menariknya, industri ini tidak mensyaratkan latar belakang pendidikan tinggi. Siapa pun, termasuk yang tidak memiliki ijazah formal, tetap bisa ambil bagian sesuai kemampuan masing-masing.
Pekerjaan seperti dempul, perakitan, hingga finishing dinilai sangat penting dalam menentukan kualitas akhir produk. Bahkan, menurutnya, hasil karya tidak akan maksimal tanpa sentuhan tahap-tahap tersebut.
“Kalau nggak didempul, nggak dicat, ya nggak jadi bagus. Semua punya peran,” jelasnya.
Ia juga menyoroti bahwa pendekatan kolaboratif ini bisa menjadi solusi nyata untuk mengurangi pengangguran, terutama di sektor informal. Dengan sistem kerja berbasis proyek, semakin banyak pesanan, semakin besar pula kebutuhan tenaga kerja.
Di sisi lain, pasar untuk Action figure ini sangat detail dan tinggi sehingga masih terbuka lebar. Produk dengan kualitas premium bahkan dapat memiliki nilai jual tinggi, menjadikannya peluang ekonomi yang menjanjikan.
Alfred mengakui bahwa industri ini masih tergolong baru di Indonesia, khususnya untuk produksi skala 1:1. Hal inilah yang membuat peluangnya semakin besar baginya.
Ke depan, ia berharap industri kreatif berbasis teknologi seperti ini dapat terus berkembang dan menjadi contoh bahwa inovasi tidak hanya soal teknologi, tetapi juga tentang bagaimana membuka kesempatan bagi banyak orang.
“Jangan cuma nunggu kerja. Kalau bisa, kita yang ciptakan kerjaan,” tegas Alfred.(Silvia Andriani)
















Discussion about this post