Jakarta – Festival Film Horor (FFH) Edisi ke-5 menghadirkan wajah berbeda bagi industri horor Indonesia. Bukan lagi sekadar parade film menyeramkan, ajang ini justru menjadi panggung pembuktian bahwa kualitas produksi horor lokal semakin berkembang, baik dari sisi teknis maupun storytelling.
Persaingan tahun ini terbilang ketat. Sejumlah film hadir dengan pendekatan yang lebih berani—mulai dari eksplorasi psikologis, kritik sosial, hingga penguatan karakter yang lebih dalam.
Hal ini menunjukkan bahwa genre horor tak lagi dipandang sebelah mata, melainkan telah berevolusi menjadi medium sinema yang lebih kompleks.
Di tengah kompetisi tersebut, “Suzanna” berhasil mencuri perhatian juri dan keluar sebagai pemenang utama. Film ini dinilai mampu menyeimbangkan unsur klasik yang sudah melekat pada horor Indonesia dengan pendekatan sinematik yang lebih modern dan rapi.
Kemenangan “Suzanna” juga mencerminkan selera penonton yang mulai bergeser. Horor tak lagi harus selalu mengandalkan kejutan instan, tetapi juga membutuhkan kekuatan cerita dan pengolahan suasana yang konsisten.
FFH ke-5 pun menjadi sinyal positif bagi masa depan industri. Para sineas muda mulai berani keluar dari formula lama dan menghadirkan karya yang lebih segar. Jika tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin horor Indonesia akan semakin kompetitif, bahkan di level internasional.
Alih-alih hanya membahas ketakutan, FFH tahun ini justru memperlihatkan keberanian—keberanian untuk berkembang, bereksperimen, dan mendefinisikan ulang apa itu film horor Indonesia. (Silvia Andriani)
















Discussion about this post