JAKARTA — Film kedua yang diproduksi CAS Production menjadi ruang belajar bagi sejumlah pemain muda dan pendatang baru. Bukan hanya mendapat kesempatan tampil dalam sebuah film, mereka juga berhadapan langsung dengan aktor berpengalaman seperti Yama Carlos dan Catherine Wilson.
Kehadiran kedua aktor tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam proses produksi film yang diperkenalkan dalam konferensi pers di sebuah kafe kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, Sabtu (5/9/2026).
Film ini mengangkat cerita yang berbeda dari produksi sebelumnya. Jika film pertama mengusung genre horor, kali ini tim produksi mengeksplorasi konflik keluarga, luka masa lalu, serta persoalan balas dendam.
Yama Carlos dipercaya memerankan Pak Dharmo, sedangkan Catherine Wilson berperan sebagai Bu Rini. Keduanya menjadi bagian dari jajaran pemain yang berinteraksi dengan talenta-talenta baru dalam film tersebut.
Menurut tim produksi, kesempatan bermain bersama aktor yang lebih berpengalaman diharapkan dapat membantu pemain muda memahami bagaimana membangun karakter dan menghadapi situasi di lokasi syuting.
“Ini masih tahap pembelajaran. Kita ingin mereka mengevaluasi apa yang sudah mereka lakukan, mengoreksi kekurangan masing-masing, supaya ketika nanti disiapkan untuk yang lebih besar lagi, mereka bisa memberikan yang terbaik,” ujar perwakilan tim produksi.
Selain Yama Carlos dan Catherine Wilson, film ini juga menghadirkan Tsani Prillia sebagai Naya/Nara, Kefan Sj sebagai Raka, Musa Zulfikar sebagai Adit, Dewanti sebagai Tari, Rumyrach sebagai Kirana, Taufik Hidayat sebagai Dion, serta Fadli sebagai Faris.
Menariknya, tim produksi tidak ingin para pemain muda terlalu terbebani dengan karakter yang jauh dari kehidupan mereka. Karena itu, pendekatan natural diterapkan dengan mempertahankan sejumlah karakter yang dinilai dekat dengan kepribadian masing-masing pemain.
Cara tersebut diharapkan membuat para pemain lebih nyaman dalam mengeksplorasi emosi dan membangun chemistry selama proses syuting.
Bagi tim produksi, pengalaman tersebut menjadi modal penting sebelum para pemain mendapatkan kesempatan dalam proyek yang lebih besar.
“Kita memang ingin mereka lebih siap. Jadi ketika waktunya sudah tepat dan masuk ke layar lebar, mereka sudah mempunyai pengalaman dan lebih matang,” lanjutnya.
Film kedua ini nantinya masih diarahkan untuk penayangan melalui YouTube. Namun, proses produksinya tidak hanya dipandang sebagai pembuatan konten digital, melainkan bagian dari perjalanan untuk membentuk kemampuan pemain dan menemukan potensi baru.
Setelah mencoba genre horor pada produksi perdana, tim kini mulai membuka ruang eksplorasi cerita yang lebih beragam. Drama dan genre lainnya juga berpeluang menjadi bagian dari pengembangan proyek berikutnya
















Discussion about this post