Selama ini Surya Saputra dikenal sebagai sosok aktor yang tenang, disiplin, dan jarang mengeluh. Namun menjelang pergantian tahun, tubuh justru memberi sinyal yang tak bisa lagi diabaikan. Sebuah pemeriksaan kesehatan rutin berubah menjadi momen refleksi besar bagi Surya tentang cara ia memperlakukan dirinya sendiri.
Bukan sakit yang membuatnya terhenti, melainkan angka-angka di hasil medical check-up yang “berbicara terlalu jujur”. Surya tak menyebut detail, tapi ia mengakui banyak catatan yang membuatnya terdiam. Dari situlah ia sadar, selama ini ia terlalu sering berdamai dengan kelelahan dan menunda perhatian pada tubuhnya sendiri.
“Ada fase di hidup di mana kita merasa kuat, padahal sebenarnya sedang memaksa,” begitu kurang lebih pesan yang ingin ia sampaikan.
Menariknya, alih-alih panik atau dramatis, Surya memilih jalan sunyi: memperbaiki kebiasaan. Ia mulai menata ulang ritme hidup, dari jam istirahat, pola makan, hingga kembali ke olahraga yang dulu membentuk fisik dan mentalnya. Bela diri yang sempat ia tinggalkan kini kembali jadi ruang pulang.
Bagi Surya, kesehatan bukan lagi soal tampil prima di depan kamera, melainkan soal bisa hadir utuh untuk keluarga dan hidup yang dijalani. Ia mengakui, usia membuatnya lebih jujur pada diri sendiri—bahwa stamina tak bisa ditawar, dan tubuh bukan mesin produksi yang bisa dipaksa terus bekerja.
Tanpa ceramah, tanpa klaim berlebihan, langkah Surya Saputra justru terasa dekat dengan banyak orang: ketika kesibukan, tanggung jawab, dan ambisi sering membuat kesehatan jadi prioritas terakhir.
Kini, alarm itu sudah berbunyi. Dan Surya memilih mendengarkannya.














