Tidak semua luka datang dalam bentuk kekerasan yang terlihat. Sebagian hadir lewat perhatian, kedekatan, dan kata-kata yang terdengar tulus. Inilah yang kemudian disadari aktris Aurelie Moeremans sebagai pengalaman pahit bernama grooming—sebuah manipulasi emosional yang ia alami sejak usia 15 tahun.
Dalam kisah yang belakangan ia ungkap ke publik, Aurelie tidak langsung menyadari bahwa relasi yang dijalaninya kala remaja menyimpan ketimpangan kuasa. Hubungan itu dibangun perlahan, lewat rasa aman palsu dan kedekatan yang membuatnya merasa dimengerti. Namun seiring waktu, perhatian tersebut berubah menjadi kontrol, dan kedekatan menjelma tekanan emosional.
Fenomena grooming kerap luput dikenali karena tidak selalu diawali dengan kekerasan. Justru sebaliknya, pelaku sering menampilkan diri sebagai sosok pelindung atau tempat bersandar. Korban, terutama yang masih di bawah umur, sulit membedakan mana kasih sayang yang sehat dan mana yang bersifat manipulatif.
Aurelie memilih menyuarakan pengalamannya bukan untuk membuka luka lama, melainkan sebagai pengingat bahwa grooming bisa terjadi pada siapa saja, bahkan tanpa disadari. Dampaknya pun tidak main-main, mulai dari trauma psikologis hingga kesulitan membangun relasi yang sehat di masa dewasa.
Kisah ini membuka ruang diskusi penting tentang perlindungan remaja dan keberanian untuk mendengarkan suara penyintas tanpa menghakimi. Grooming bukan soal “salah memilih”, melainkan tentang penyalahgunaan kepercayaan dan ketidaksetaraan kuasa.
Dengan bersuara, Aurelie berharap semakin banyak orang menyadari bahwa perhatian yang berlebihan pun bisa menjadi tanda bahaya—dan bahwa memahami grooming adalah langkah awal untuk mencegahnya terulang.















