Jakarta — Alien akhirnya memilih untuk berbicara terbuka tentang pengalaman pahit dalam relasi yang pernah ia jalani. Keputusan ini bukan sekadar membuka masa lalu, melainkan bentuk kesadaran dan upaya untuk mencegah orang lain mengalami hal serupa.
“Aku bicara bukan karena aku lemah, tapi karena aku sudah sadar. Aku nggak mau ini terjadi ke orang lain,” ujarnya.
Alien mengungkapkan bahwa dirinya sempat mengalami kebingungan terhadap realitas yang ia jalani. Ia kerap mempertanyakan perasaan dan pikirannya sendiri—sesuatu yang kini ia pahami sebagai dampak dari manipulasi psikologis atau gaslighting.
“Aku sering ngerasa, ini beneran terjadi atau cuma perasaan aku. Ternyata memang itu efeknya—dibikin ragu sama diri sendiri,” katanya.
Selama ini, ia memilih diam karena berbagai pertimbangan, termasuk anak dan stigma sosial terhadap perempuan yang berbicara. Namun, diam justru membuat luka semakin dalam dan berulang.
“Aku tahan, aku pendam. Tapi ternyata luka yang nggak disembuhkan itu tetap ada dan terus ke-trigger,” ungkapnya.
Pasca berpisah, Alien juga mengaku masih mengalami perlakuan yang menurutnya melanggar batas, mulai dari kehadiran tanpa izin hingga intimidasi yang membuatnya tidak nyaman di ruang pribadinya sendiri.
“Harusnya setelah berpisah, kita saling menghormati. Parenting itu support, bukan saling menjatuhkan,” tegasnya.
Dalam menghadapi berbagai tudingan, Alien memilih jalur profesional dengan melibatkan pihak berwenang dan ahli untuk memastikan kebenaran. Ia menegaskan tidak ingin membalas dengan narasi, melainkan dengan fakta.
“Aku datang ke lembaga yang kompeten, menjalani prosedur. Dan hasilnya tidak seperti yang dituduhkan,” ujarnya.
Pengalaman ini menjadi titik balik bagi Alien untuk memahami pentingnya kesehatan mental dan proses penyembuhan. Ia mengibaratkan luka emosional seperti duri yang tidak bisa dibiarkan begitu saja.
“Kalau cuma ditahan, dia tetap ada. Harus dicabut supaya bisa benar-benar sembuh,” jelasnya.
Kini, Alien menegaskan dirinya bukan lagi korban yang terjebak, melainkan individu yang sedang pulih dan belajar menetapkan batasan. Ia berharap suaranya bisa menjadi pengingat bagi banyak orang, terutama perempuan, untuk tidak menormalisasi perlakuan yang tidak sehat.
“Nggak ada yang layak diperlakukan tidak wajar. Dan anak-anak juga harus tahu, ini bukan hal yang normal,” katanya.
Ia pun menutup dengan penegasan bahwa perjuangannya bukan tentang menang atau kalah, melainkan tentang menjaga martabat diri dan masa depan anak-anaknya.
“Hidup ini bukan soal menang. Tapi soal bagaimana kita melindungi diri dan anak-anak kita,” tutup Alien.(Silvia Andriani)















