Jakarta – Kolaborasi antara Pusakata dan Haddad Alwi lewat lagu “Menghitung” justru menyentil satu hal yang jarang dibahas secara gamblang: kecenderungan manusia menjadikan cinta sebagai transaksi.
Alih-alih sekadar lagu reflektif, “Menghitung” hadir sebagai kritik halus terhadap pola pikir “memberi untuk menerima” yang kerap terjadi dalam hubungan—baik dengan sesama manusia maupun dengan Tuhan.
Liriknya mengajak pendengar mempertanyakan: sejak kapan kasih sayang harus diukur untung-rugi?
Pusakata membawa narasi yang terasa personal dan membumi, seolah bercerita tentang kelelahan emosional akibat ekspektasi yang tak seimbang. Sementara Haddad Alwi masuk dengan pendekatan spiritual, memperluas makna lagu ke ranah yang lebih dalam—bahwa rahmat Tuhan tidak pernah bekerja dengan logika hitung-hitungan manusia.
Secara musikal, kesederhanaan justru menjadi kekuatan utama.
Tanpa aransemen yang berlebihan, lagu ini memberi ruang bagi pesan untuk benar-benar “terdengar”. Nuansanya tenang, namun menyimpan kegelisahan yang relevan dengan kehidupan modern.
“Menghitung” akhirnya bukan hanya tentang cinta atau religiusitas, tapi juga tentang membongkar cara kita memaknai keduanya. Sebuah pengingat bahwa mungkin, hal paling tulus dalam hidup justru lahir ketika kita berhenti menghitung.(Silvia Andriani)

















Discussion about this post