Jakarta – Janji percepatan urusan lewat “jalur dalam” berujung kerugian besar bagi selebgram Ade Ratnasari. Ia mengaku menjadi korban dugaan penipuan dengan total kerugian mencapai Rp1,05 miliar, setelah percaya pada sosok yang mengaku memiliki koneksi pejabat tinggi.
Dalam keterangannya, Ade mengungkap bagaimana pelaku berinisial AMR membangun kepercayaan sejak awal. Pertemuan demi pertemuan dilakukan tanpa membahas uang, hingga akhirnya muncul tawaran bantuan yang diklaim bisa mempercepat proses tertentu.
“Awalnya tidak pernah bicara uang. Tapi tiba-tiba berubah, dan dia membawa nama-nama pejabat untuk meyakinkan,” ujar Ade.
Situasi semakin rumit ketika permintaan dana datang di saat Ade tengah berada dalam kondisi emosional, karena harus menjenguk orang tuanya yang sakit. Dalam kondisi tersebut, ia mengaku tidak sempat berpikir panjang dan langsung melakukan transfer.
Dana yang dikirim pun tidak sedikit—mulai dari Rp200 juta, Rp50 juta, hingga akumulasi yang mencapai lebih dari Rp1 miliar bersama rekannya.
Namun janji tinggal janji. Pengembalian dana yang dijanjikan melalui perantara tidak berjalan sesuai kesepakatan. Dari Rp250 juta yang dijanjikan kembali, hanya Rp150 juta yang terealisasi, itupun tidak sepenuhnya berasal dari dana miliknya.
Ade menilai modus ini sengaja dirancang untuk memanfaatkan kepercayaan korban, dengan menjual nama pejabat dan menciptakan kesan urgensi.
“Seolah-olah harus cepat, harus sekarang. Itu yang bikin kita tidak sempat verifikasi,” katanya.
Kasus ini kini telah dilaporkan ke pihak kepolisian dan tengah ditangani. Ade juga mengungkap bahwa dirinya bukan satu-satunya korban, melainkan ada sejumlah pihak lain yang mengalami pola serupa sejak beberapa tahun terakhir.
Di tengah upayanya mencari keadilan, Ade juga menghadapi somasi terkait pemberitaan yang beredar. Namun ia menegaskan tidak pernah menyebut nama pihak tertentu dalam pernyataannya kepada media.
Kini, ia berharap kasus ini bisa menjadi peringatan bagi masyarakat agar tidak mudah percaya pada tawaran “jalan pintas”, apalagi yang mencatut nama pejabat.
“Uang kita nyata, tapi jasanya ternyata palsu. Jangan sampai orang lain mengalami hal yang sama,” tutupnya.(Silvia Andriani)














Discussion about this post